19 January 2026
Janji Setia Tuntas di Gajayana: Kuncoro, Napas Terakhir Sang Legenda di Atas Rumput yang Membesarkannya
Awan hitam menyelimuti langit sepak bola Indonesia, Malang khususnya.
Salah satu putra terbaik bangsa, Kuncoro, telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Minggu petang, 18 Januari 2026.
Sosok yang dikenal sebagai petarung tangguh di lapangan hijau ini mengembuskan napas terakhirnya akibat serangan jantung usai bermain sepak bola bersama para sahabat pemain legend Malang lainya di acara 100 tahun Stadion Gajayana , tempat yang sangat bersejarah baginya, mulai awal berkarier hingga menjemput pulang ke Rahmatullah .
Kepergian Kuncoro di usia 52 tahun dia lahir 7 Maret 1973 meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Arema FC, Aremania tetapi juga bagi pecinta sepak bola nasional yang mengenang kegigihan dan dedikasinya.
*Detik-Detik Berpulangnya Sang Legenda*
Insiden memilukan tersebut terjadi di tengah pertandingan reuni para legenda sebakbola Malang Raya dari berbagai klub seperti Arema maupun Persema.
Kuncoro yang masih aktif menjaga kebugaran, usai pertandingan tiba-tiba ambruk di bench Stadion Gajayana.
Meski sempat mendapatkan pertolongan pertama dan dilarikan ke Rumah Sakit Syaiful Anwar , nyawa sang legenda tidak tertolong.
Ia "pergi" di tempat yang membesarkan namanya, dengan kenangan bersama para sahabatnya dan sepakbola yang menghidupinya.
*Kilas Balik: "Jimat" Juara Tiga Klub Berbeda*
Kuncoro adalah definisi pemain serba bisa atau “versatile” Sepanjang kariernya, ia fasih bermain sebagai bek kanan, stoper, hingga gelandang.
Karakter permainannya yang keras, lugas, dan tak kenal kompromi menjadikannya momok bagi penyerang lawan.
Kuncoro mencatatkan rekor istimewa yang jarang dimiliki pemain lain.
Ia berhasil meraih gelar juara kasta tertinggi Liga Indonesia bersama tiga klub berbeda:
1. Arema Malang: Juara Kompetisi Galatama XII (1992/1993). Ini adalah gelar yang melambungkan namanya sebagai ikon Singo Edan.
2. PSM Makassar: Juara Liga Indonesia (1999/2000). Ketangguhannya menjadi pilar utama Juku Eja saat itu.
3. Persik Kediri: Juara Liga Indonesia (2003). Bersama Macan Putih, ia kembali membuktikan tuahnya sebagai pemain juara.
*Jejak di Tim Nasional Indonesia*
Di level internasional, Kuncoro adalah patriot sejati. Namanya tercatat dalam skuad PSSI Harimau di ajang Piala Kemerdekaan 1994.
Sebagai informasi, pada era tersebut PSSI membagi kekuatan menjadi dua tim, yakni PSSI Garuda dan PSSI Harimau, di mana Kuncoro menjadi andalan di tim Harimau.
Selain itu, Kuncoro juga menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia di ajang bergengsi Piala Tiger 1998 (sekarang Piala AFF), membuktikan konsistensinya di level elite selama hampir satu dekade.
*Pengabdian Tanpa Batas: Karier Kepelatihan di Arema FC*
Setelah gantung sepatu, cinta Kuncoro pada Singo Edan tidak pernah pudar. Sejak kembali ke Malang, ia mendedikasikan sisa hidupnya di jajaran kepelatihan Arema FC selama lebih dari satu dekade.
Rekam jejak pengabdiannya mencatat ia hampir selalu ada di setiap era transisi klub:
• Asisten Pelatih (2011–2026):
Kuncoro memulai peran panjangnya sebagai asisten pelatih sejak November 2011. Ia menjadi sosok "jembatan" yang setia mendampingi belasan pelatih kepala berbeda. Hingga akhir hayatnya pada putaran pertama Liga 1 musim 2026, Kuncoro masih aktif menjabat sebagai Asisten Pelatih Arema FC. Ia setia mendampingi pelatih kepala asal Brasil, Marcos Vinícius dos Santos Gonçalves (Marquinhos Santos), bahu-membahu meracik strategi untuk tim kebanggaan Arek Malang.
• Pelatih Fisik (2022–2023):
Pada periode Mei 2022 hingga Maret 2023, Kuncoro sempat dipercaya memegang kendali fisik pemain. Di sinilah karakter kerasnya tertuang dalam membentuk stamina "gaya Malangan" yang ngeyel dan tak kenal lelah.
• Caretaker / Pelatih Interim:
Kuncoro adalah "pemadam kebakaran" andalan Arema. Ia selalu siap pasang badan mengambil alih kemudi tim saat terjadi kekosongan pelatih kepala di masa-masa kritis, seperti pada awal musim 2020 dan pertengahan 2023.
Sosoknya dikenal sebagai "Bapak" mampu mencairkan suasana disaat ketegangan keyerpurukan terjadi dalam tim, tak jarang Kuncoro menjadi sasaran candaan pemain pemain muda asuhannys, dia sekaligus motivator ulung di ruang ganti.
Bagi Kuncoro, jabatan hanyalah nama, namun mengabdi untuk Arema—baik sebagai pemain, pelatih fisik, maupun asisten pelatih bagi Marcos Santos—adalah harga mati.
Selamat jalan, Kuncoro. Dedikasimu, semangat juangmu, candaanmu dan gelar-gelar yang kau persembahkan akan abadi dan telah engkau buktikan janji setiamu mengabdi di Arema bagi sepak bola Indonesia hingga hayatmu.
Doa Husnul Khotimah menyertaimu Cak Kun. Amin YRA
Sudarmaji
Dulure Cak Kun - Pegiat Arema FC