Tiga Singa di Depan Stasiun Kota Baru: Menyambut Kedatangan dengan Kebanggaan

21 July 2026

Tiga Singa di Depan Stasiun Kota Baru: Menyambut Kedatangan dengan Kebanggaan

Series Dokumenter 'Bumi Seribu Singa

Saat kereta api memasuki Stasiun Kota Baru Malang dan pintu-pintu gerbong terbuka, pemandangan pertama yang menyambut para pendatang bukanlah gedung-gedung tinggi atau mall modern. Melainkan tiga sosok singa raksasa berwarna kuning kecokelatan, duduk gagah di seberang jalan, seolah berbisik: "Selamat datang di kota para singa."

Tiga patung singa di Taman Trunojoyo itu bukan sekadar ornamen. Mereka adalah penjaga gerbang yang diam, saksi bisu perjalanan panjang Kota Malang—dari stasiun kereta api pertama di era kolonial hingga menjadi ikon kebanggaan Arek-arek Malang di era modern.

---

Stasiun di Balik Tiga Singa

Untuk memahami ketiga singa itu, kita harus mundur lebih dari satu abad. Stasiun Kota Baru—yang kini berdiri megah di Jalan Trunojoyo—mulanya bukanlah stasiun utama Kota Malang.

Jalur kereta api pertama menuju Malang mulai dirintis sekitar tahun 1870. Stasiun pertama diresmikan pada 20 Juli 1879 oleh Gubernur Jenderal Mr. J. W. Van Lansberge. Namun stasiun awal itu menghadap ke timur, ke arah kawasan militer Belanda di Rampal.

Barulah pada tahun 1930-an, stasiun dipindahkan ke lokasi sekarang—sekitar 100 meter di selatan stasiun lama—dan menghadap ke barat, seiring perkembangan kota yang mengarah ke pusat pemerintahan. Bangunan yang kita lihat sekarang, dengan arsitektur bergaya kolonial modern (Nieuwe Bouwen) yang didominasi bentuk kubus dan garis horizontal-vertikal, dibangun sekitar tahun 1939. Dirancang oleh arsitek J. van der Eb, stasiun ini bahkan memiliki terowongan bawah tanah yang dulu berfungsi sebagai perlindungan dari serangan udara menjelang Perang Dunia II.

Pada Desember 2018, Stasiun Kota Baru ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Wali Kota Malang Sutiaji. Sebuah pengakuan resmi bahwa bangunan ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan lembaran sejarah yang hidup.

---

Lahirnya Tiga Singa

Jika stasiun adalah saksi bisu masa kolonial, maka tiga singa di seberangnya adalah simbol kebangkitan identitas lokal.

Taman Trunojoyo sendiri diresmikan pada 1 Juni 2014 oleh Wali Kota Malang H. Moch. Anton. Namun mahakarya di dalamnya—tiga patung singa—baru diresmikan tujuh bulan kemudian, tepatnya pada 28 Desember 2014.

Proses kelahirannya adalah sebuah proses demokratis. Pemerintah Kota Malang menggelar lomba desain terbuka untuk mewujudkan aspirasi masyarakat yang mendambakan ikon kebanggaan. Heppy Jundan Hendrawan, seorang dosen DKV dari Universitas Negeri Malang, memenangkan kompetisi tersebut, mengabadikan sosok "Singo Edan" sebagai penjaga gerbang kota. Patung ini melambangkan semangat juang dan soliditas Arek Malang yang tak terbendung.

Proses pembuatannya memakan waktu tiga hingga tujuh bulan. Dengan tinggi dan lebar masing-masing tujuh meter, ketiga singa itu berukuran raksasa—seukuran rumah, sebagaimana diberitakan media lokal kala itu.

Apa makna di balik ketiganya? Bukan satu, bukan dua, melainkan tiga singa. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang kala itu, Wasto, menjelaskan bahwa pembangunan patung ini merupakan masukan dari Aremania dan Aremanita serta masyarakat Malang pada umumnya. Sementara Wali Kota Anton menegaskan makna yang lebih dalam: tiga patung singa itu melambangkan bersatunya tiga kepala daerah di Malang Raya—Wali Kota Malang, Wali Kota Batu, dan Bupati Malang.

Namun simbolisme tidak berhenti di situ. Tiga singa juga menjadi penguatan nama besar Kota Malang dengan sebutan Arema, Aremania, dan Aremanita. Tiga entitas yang tak terpisahkan dalam denyut nadi kota ini.

---

Singa dan Kota Malang: Sebuah Hubungan Abadi

Mengapa singa? Jawabannya membawa kita menyusuri lorong waktu hingga ke abad ke-13.

Singa bukanlah sekadar hewan buas bagi warga Malang. Simbol ini telah mengakar sejak zaman Kerajaan Singhasari (1222-1292 M). Nama "Singhasari" sendiri berarti "singa yang gagah" dalam bahasa Sanskerta. Pada dua candi peninggalan Majapahit di wilayah Malang—Candi Jago dan Candi Kidal—juga ditemukan patung sosok singa.

Pada masa kolonial Belanda, sepasang singa dijadikan lambang Kotapraja Malang. Dan kini, singa menjelma menjadi julukan klub kebanggaan Arema FC—Singo Edan.

Ketiga patung di Taman Trunojoyo pun kerap disebut Patung Singo Edan. Posisinya yang sengaja dibuat menghadap ke stasiun bukanlah kebetulan. Ini adalah sambutan visual bagi siapa pun yang baru tiba di kota ini: "Kamu berada di tanah para singa."

---

Ruang Publik yang Hidup

Sejak diresmikan, ketiga singa itu menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Wisatawan yang turun dari Stasiun Kota Baru langsung disambut oleh patung-patung raksasa ini. Setiap saat, patung tersebut dipenuhi pengunjung yang berfoto, baik dengan gaya selfie maupun foto bersama.

Bahkan kehadiran patung ini membawa berkah bagi pedagang cilok dan bakso yang mangkal di sekitarnya. Pada perayaan ulang tahun Arema, ribuan Aremania berkumpul di depan patung singa ini sebelum berziarah ke makam para pendiri klub. Taman ini juga menjadi saksi berbagai kegiatan—dari sosialisasi lalu lintas hingga pagelaran wayang kulit yang dipadati ribuan warga.

---

Dari Stasiun ke Taman, Dari Masa Lalu ke Masa Kini

Ada keindahan tersendiri dalam narasi yang terbentang di Jalan Trunojoyo. Di satu sisi, Stasiun Kota Baru berdiri sebagai monumen arsitektur kolonial yang telah berusia lebih dari delapan dekade. Di sisi lain, tiga singa tegak sebagai ikon kebanggaan lokal yang baru berusia sepuluh tahun.

Keduanya saling berhadapan—masa lalu bertemu masa kini, kolonialisme bertemu kebanggaan pribumi, kereta api bertemu sepak bola. Sebuah dialog bisu antara sejarah dan identitas.

Tiga singa di depan Stasiun Kota Baru bukanlah sekadar patung. Mereka adalah gerbang kota, penanda identitas, dan ruang publik yang merangkul siapa saja—wisatawan yang baru turun dari kereta, Aremania yang berkumpul untuk merayakan, atau sekadar warga yang duduk di taman menikmati sore.

Mereka adalah jawaban atas pertanyaan yang mungkin tak pernah terucap: "Kota apa ini?"

Dan ketiga singa itu menjawab dengan tegas: "Ini Malang. Kota para singa." (*)

Banner Ads
Banner Ads
NEW

AREMA FC 2025/26 JERSEY