Menelusuri Jejak Singa di Taman Dempo: Simbol Kejayaan di Jantung Kota Malang

27 July 2026

Menelusuri Jejak Singa di Taman Dempo: Simbol Kejayaan di Jantung Kota Malang

Bumi Seribu Singa

Di tengak hiruk-pikuk Jalan Dempo, di kawasan elit Kota Malang, dua patung singa berwarna cokelat gagah berdiri saling berhadapan. Bukan sekadar ornamen taman, keduanya adalah penjaga bisu yang menyimpan cerita panjang—dari kejayaan kerajaan kuno hingga semangat gotong royong anak-anak sekolah.

---

Dari Lahan Gersang Menjadi Taman Cantik

Taman Dempo, lokasi di mana kedua singa itu kini bersemayam, dulu bukanlah tempat yang menarik untuk disinggahi. Kawasan di ujung Jalan Dempo, dekat dengan SMAK St. Albertus atau yang lebih dikenal dengan SMA Dempo itu, hanya dipenuhi pohon palem dan rumput-rumput tak jelas bentuknya. Gersang. Sepi. Seolah tak seorang pun mau singgah.

Namun pada 23 Desember 2017, taman itu diresmikan Wali Kota Malang H. Moch. Anton. Wajahnya berubah total: kolam air mancur berbentuk lingkaran bergaya Eropa, sembilan pot raksasa berisi tanaman hias, dan dua patung singa yang saling berhadapan di ujung taman. Konon biaya revitalisasi mencapai sekitar Rp 800 juta—seluruhnya murni bantuan dari SMAK Dempo dan para alumninya.

Kehadiran taman ini menjadi bukti nyata sinergi antara institusi pendidikan dan pemerintah kota. Bahkan dikabarkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan apresiasi atas tertibnya proses penyaluran CSR ini.


Singa dan Kota Malang: Sebuah Hubungan Abadi

Mengapa singa? Jawabannya membawa kita menyusuri lorong waktu hingga ke abad ke-13. Singa bukanlah sekadar hewan buas bagi warga Malang. Simbol ini telah mengakar sejak zaman Kerajaan Singhasari (1222-1292 M). Nama "Singhasari" sendiri berarti "singa yang gagah" dalam bahasa Sanskerta—dan kerajaan inilah yang menjadi cikal bakal Majapahit.

Pada masa kolonial Belanda, unsur sepasang singa dijadikan lambang Kotapraja (Gemeente) Malang. Lambang yang diperkenalkan pada 17 Juni 1921 itu berwujud dua ekor singa Belanda mengapit perisai, terinspirasi dari Kerajaan Singhasari. Bahkan di dua candi peninggalan Majapahit di wilayah Malang—Candi Jago dan Candi Kidal—juga ditemukan patung sosok singa.

Singa pun menjadi simbol keberanian Arek-arek Malang. Klub kebanggaan Arema FC berjuluk "Singo Edan". Di Taman Trunojoyo pun dibangun tiga patung singa sebagai penguatan nama besar Kota Malang dengan sebutan Arema, Aremania, dan Aremanita.

Dengan demikian, dua singa di Taman Dempo bukanlah sekadar dekorasi. Mereka adalah mata rantai terakhir dari tradisi panjang yang menghubungkan Malang masa kini dengan kejayaan masa lalunya.


Karya Seniman Lokal

Di balik kemegahan patung singa Taman Dempo, terdapat nama Syaifudin Zuhri—salah satu pendiri rumah produksi patung Job Studio Group di Kabupaten Malang. Ia adalah seniman patung yang karyanya tersebar di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Patung Kuda Labuan Bajo hingga Patung Komodo Mendunia.

Penelitian akademis dari Universitas Negeri Malang mencatat bahwa patung taman karya Syaifudin Zuhri menjalani proses panjang: dari pra-proses, proses pembuatan, hingga proses akhir. Patung Singa Taman Dempo menjadi salah satu dari lima karya monumental yang diteliti.

Ini menunjukkan bahwa di balik keindahan taman, terdapat ekosistem seni patung yang hidup di Malang—sebuah kota yang memang terkenal dengan keseniannya, ditandai dengan banyaknya patung taman maupun patung monumen.

Lebih dari Sekadar Taman

Bagi warga Malang, Taman Dempo bukan hanya tempat berswafoto. Di sini, jika beruntung, pengunjung bisa melihat pelangi di air mancur hasil pembiasan sinar matahari.

Bagi keluarga besar SMA Dempo, taman ini adalah mimpi yang diwujudkan. Sekolah Katolik pertama yang berdiri di Kota Malang ini—didirikan oleh Pater Petrus Nicolaus Kramer, O.Carm. pada tahun 1936—telah melahirkan generasi-generasi yang peduli pada lingkungan.

Dua singa yang saling berhadapan di Jalan Dempo mungkin tampak seperti ornamen biasa. Namun bagi yang tahu sejarahnya, mereka adalah penjaga yang setia—menyaksikan bagaimana Kota Malang bertransformasi dari kerajaan kuno, kota kolonial, hingga kota pendidikan yang terus melangkah maju.

Di tengah deru kendaraan yang melintas, di antara hiruk-pikuk kawasan elit Malang, dua singa itu terus berdiri. Menjaga. Mengingatkan. Bahwa kejayaan bukanlah sesuatu yang usang—melainkan warisan yang harus dijaga, dirawat, dan dihidupkan kembali. Seperti yang dilakukan oleh segelintir orang yang percaya bahwa lahan kering bisa disulap menjadi taman, dan singa bisa kembali menjadi simbol kebanggaan. (*)

Banner Ads
Banner Ads
NEW

AREMA FC 2025/26 JERSEY