13 August 2026
Menelusuri Auman Singa di Balik Legenda Selecta: Dari Goa Mistis Hingga Taman Raksasa
Bumi Seribu Singa
Berbeda dengan patung singa di Malang yang menjadi ikon kota dan simbol kebanggaan Arek-arek, di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, suara singa tidak terdengar dari auman marmer yang kaku. Di sini, singa "berbicara" dengan cara yang lebih atraktif: menjadi sebuah gua, menjadi taman bermain, dan menjadi saksi bisu perjalanan pariwisata dari masa kolonial hingga kini.
Jika patung singa di Malang adalah monumen yang melindungi, maka singa di Selecta adalah hiburan yang merangkul.
---
*1928: Ketika Singa Pertama Kali "Dibangun"*
Selecta bukanlah taman rekreasi biasa. Didirikan pada tahun 1928 oleh warga Belanda bernama De reyter De Wild (atau Franciscus de Ruitjer de Wildt). Awalnya bernama Selectie— yang berarti "terpilih" — tempat ini dibangun sebagai tempat peristirahatan para pembesar Pemerintah Hindia Belanda.
Di masa kejayaannya, Selecta adalah hotel mewah dengan kolam renang dan taman yang asri. Namun, pada masa Revolusi fisik, Selecta sempat dibumihanguskan sebagai bagian dari taktik agar aset tersebut tidak jatuh kembali ke tangan Belanda.
Pada tahun 1949, 47 tokoh masyarakat setempat patungan membeli Selecta dengan harga Rp 305.000, sebuah angka fantastis di masa ketika emas satu gram hanya Rp 10. Setahun kemudian, tepatnya 19 Januari 1950, Selecta diresmikan kembali dan menjadi milik rakyat. Di tengah hiruk-pikuk sejarah panjang itulah, sosok singa mulai "dibangun" di Selecta.
*Gua Singa: Bukan Sekadar Patung, Tapi Petualangan*
Di antara deretan patung hewan raksasa yang menjadi ciri khas Selecta, ada satu ikon yang paling menonjol: Gua Singa (atau Goa Singa). Berbeda dengan patung singa pada umumnya yang hanya bisa dipandang, Gua Singa adalah patung kepala singa raksasa yang menjadi pintu masuk sebuah terowongan. Ketika pengunjung melangkahkan kaki ke dalam "mulut singa", mereka akan memasuki lorong buatan sepanjang sekitar 20 meter dengan tinggi 180 cm.
"Saking senangnya..." tulis seorang pengunjung dalam catatan perjalanannya, menggambarkan kegembiraan saat menjelajahi terowongan di bawah pohon beringin rindang itu.
Gua Singa bukan hanya wahana, tetapi juga menjadi ikon visual Selecta. Banyak artikel dan ulasan wisata menyebutkan bahwa "patung kepala singa" ini adalah daya tarik utama yang tak boleh dilewatkan.
*Taman Singa dan Raksasa Lainnya*
Selain Gua Singa, Selecta juga memiliki wahana bernama Taman Singa. Meskipun tidak terdokumentasi secara detail sebagai patung tunggal, keberadaan taman ini menegaskan bahwa singa adalah tema sentral di destinasi wisata legendaris ini.
Bersama dengan patung-patung hewan raksasa lainnya, singa-singa di Selecta menjadi bagian dari ekosistem taman bunga yang hijau dan sejuk, dengan suhu rata-rata 17 derajat Celcius di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.
*Singa dan Sejarah yang Tak Terpisahkan*
Mengapa singa? Sama seperti di Malang, jawabannya kembali ke akar sejarah. Wilayah Batu dan sekitarnya sejak abad ke-10 telah dikenal sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Dan singa, sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan, adalah pilihan alamiah untuk menghiasi tempat peristirahatan para bangsawan, baik di era kerajaan maupun di era kolonial.
Bahkan Presiden Soekarno, yang pernah singgah di Selecta selama 15 hari pada masa pendudukan Jepang, mencatatkan pesan agar Selecta dibangun secara mandiri demi kebanggaan nasional. Di bawah kepemimpinan putra-putri Indonesia, singa-singa di Selecta terus "mengaum"—menyambut jutaan wisatawan setiap tahunnya.
Patung singa di Selecta berbeda dari saudara-saudaranya di Malang. Jika singa di Taman Dempo dan Taman Trunojoyo adalah penjaga yang khusyuk, maka singa di Selecta adalah penghibur yang ceria. Ia tidak hanya diam memandang, tetapi mengajak masuk ke dalam mulutnya, menjelajahi lorong gelap, dan keluar di sisi lain dengan senyuman. Di sinilah letak keajaiban Selecta: sebuah tempat di mana sejarah, hiburan, dan simbolisme bertemu dalam satu harmoni yang abadi. (*)
Salam Satu Jiwa!