14 August 2026
Di Kasembon Dua Singa Penjaga Gerbang Barat Bhumi Arema
Bumi Seribu Singa
Julukan "Bhumi Arema" bukan sekadar isapan jempol. Semangat, identitas, dan kecintaan masyarakat terhadap simbol singa menjalar hingga ke wilayah paling ujung. Di Kecamatan Kasembon, wilayah sisi barat Kabupaten Malang yang menjadi benteng perbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri, simbol ini menjelma menjadi saksi bisu kreativitas warga dan kebanggaan daerah.
Kecamatan Kasembon memiliki dua ikon singa kontras yang ikonik: sang singa penjaga jalur utama, dan sang raksasa yang bersembunyi di dalam desa.
Keduanya menjadi titik orientasi serta penanda kultural yang tak tergantikan bagi para pengendara jalur Malang–Kediri.
Sang Raksasa Tersembunyi di Alun-Alun Bejirejo
Jika Anda masuk lebih dalam ke Desa Bejirejo, Anda akan disuguhi pemandangan yang mencengangkan.
Di Alun-Alun Kasembon berdiri sebuah Patung Singa Raksasa yang diklaim sebagai salah satu patung terbesar di seluruh wilayah Malang Raya.
Patung megah berwujud singa yang sedang mencengkeram bola ini memiliki dimensi fantastis: tinggi 12 meter dan panjang 19 meter.
Sayangnya, kemegahan patung raksasa ini kurang populer di kalangan wisatawan luas karena posisinya yang tersembunyi, jauh dari jalur lintas utama Malang–Kediri.
Namun, keunikan patung ini tidak berhenti pada ukurannya semata. Patung ini bukan sekadar beton mati; di dalam perut singa raksasa tersebut ternyata berfungsi aktif sebagai kantor desa dan ruang pengurus wisata setempat.
Sebuah perpaduan unik antara seni ikonik, fungsi birokrasi, dan manajemen wisata desa yang jarang ditemukan di tempat lain.
Singa Pembatas Jalan: Monumen Swadaya Aremania Mangir

Berbeda nasib dengan sang raksasa di Alun-Alun Bejirejo, singa yang satu lagi justru menjadi "wajah pertama" yang menyapa setiap pelintas jalur utama.
Berdiri gagah di tepi Jalan Raya Malang, tepatnya di Desa Mangir, patung singa ini merupakan gerbang masuk resmi perbatasan Kediri–Malang.
Patung singa penanda wilayah bertuliskan "Ongis Nade" dan "Welcome to Bhumi Arema" ini menyimpan nilai historis mendalam tentang loyalitas suporter.
Monumen ini dibangun secara swadaya menggunakan dana pribadi oleh seorang Aremania bernama Heri (atau akrab disapa Jiyem) tepat saat perayaan Ulang Tahun Perak (ke-25) Arema.
Motivasi heri membangun patung tersebut sangat personal, mengingat rumah tinggalnya dulu berada tepat di belakang berdirinya patung tersebut.
Hingga hari ini, napas kehidupan patung singa pembatas jalan ini dirawat bersama.
Setiap tahun, warga dan komunitas Aremania setempat melakukan patungan serta menggunakan dana pribadi untuk biaya perawatan berkala, seperti pengecatan ulang.
Kebersamaan ini sempat diuji ketika patung dirusak oleh oknum suporter klub lain.
Beruntung pada tahun 2022, aksi solidaritas hadir dari Gilang Widya Pramana , Presiden Klub Arema FC saat itu, yang menggelontorkan bantuan senilai Rp10 juta demi merenovasi total kerusakan tersebut.
Kini, setelah kembali berdiri kokoh dan cantik, singa pembatas di Desa Mangir ini kembali mengemban tugas utamanya: berdiri gagah, memegang bola, dan dengan bangga memberi tahu seluruh pelintas bahwa mereka telah resmi menapakkan kaki di wilayah sakral "Bhumi Arema". (**)
Salam Satu Jiwa!