Di Balik Lensa dan Tinta: Tawa, Air Mata Kanjuruhan, dan Asa Jurnalis untuk Kebangkitan Arema FC

07 September 2026

Di Balik Lensa dan Tinta: Tawa, Air Mata Kanjuruhan, dan Asa Jurnalis untuk Kebangkitan Arema FC

Menjadi jurnalis olahraga bukan sekadar melaporkan jalannya pertandingan atau skor akhir di papan reklame. Di balik setiap paragraf berita dan jepretan foto, ada keringat, tawa, hingga air mata trauma yang jarang terungkap ke publik. 

Sisi kemanusiaan inilah yang diangkat dalam episode perdana podcast Arema FC Official TV yang secara unik membalik keadaan dengan tajuk "Arema FC Bertanya, Wartawan Menjawab".

Dipandu oleh Sudarmaji (Manager Operasional Arema FC) dan Stenly (Head of Media and Publication), podcast ini menghadirkan dua pewarta olahraga yang tak asing lagi di Malang: Suci Rahayu dari Kompas.com dan Asad Arifin dari Bola.net. Keduanya bukan jurnalis sembarangan, melainkan langganan juara lomba jurnalistik Piala Presiden, termasuk pada edisi 2026 

*Romantisme Awal di Pinggir Lapangan*

Bagi Asad dan Suci, Arema FC adalah kawah candradimuka karier mereka. Menariknya, mereka berdua mengawali liputan dengan tensi tinggi: Arema melawan tim luar negeri.

Asad masih ingat betul memori tahun 2014 saat Arema menjamu klub kasta tertinggi Liga Jerman, Hamburg SV. Sebagai jurnalis yang baru ditugaskan ke Malang, ia langsung dihadapkan pada atmosfer Stadion Kanjuruhan yang bergemuruh. 

“Benar-benar kayak pertama kali liputan langsung pertandingan gede, big match seperti luar negeri. Ndredek (gemetar) sampai lali (lupa) nulis apa,” kenang Asad sambil tertawa.

Sementara itu, Suci menjalani debutnya sebagai fotografer olahraga di pinggir lapangan pada tahun 2013. Kala itu, ia adalah satu-satunya fotografer perempuan di sana. 

Membawa lensa panjang yang berat dan tubuh yang mungil, Suci mengaku sempat tak percaya diri. Namun, nyanyian lantang Aremania justru membuatnya takjub sekaligus bingung harus memotret pemain atau kehebohan suporter.

*Memulihkan Luka Kanjuruhan*

Namun, romantisme sepak bola itu terluka pada 1 Oktober 2022. Ketika Sudarmaji menyinggung Tragedi Kanjuruhan, atmosfer studio mendadak sendu. Tragedi tersebut tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka batin yang dalam bagi para pewarta.

Asad, yang kebetulan bertugas memantau dari rumah malam itu, menceritakan bagaimana ia menerima telepon dari rekannya di lapangan dengan suara yang sudah bergetar hebat. Menerima rentetan informasi korban jiwa yang terus bertambah dari belasan hingga ratusan membuat Asad syok. 

“Itu sampai mau tidur enggak bisa tidur, mau nulis juga nulis apa karena benar-benar syok,” tutur Asad. 

Tuntutan profesi memaksanya terus mengetik berita hingga pagi, sementara kesadaran akan betapa besarnya tragedi tersebut baru menghantam batinnya di hari-hari berikutnya.

Bagi Suci yang berada tepat di pusaran tragedi, traumanya jauh lebih nyata. Ia menyaksikan langsung suporter yang tergeletak dan kehabisan napas. Di titik itu, profesionalismenya sebagai fotografer runtuh oleh nurani kemanusiaannya. Ia meletakkan kameranya dan memilih membantu sebisa mungkin.

Dengan suara bergetar, Suci bercerita, "Aku cuma sobek-sobek kardus air kemasan buat kipas-kipas, aku kasih-kasihin ke orang," kenangnya. 

Ia menangis menyadari keterbatasannya menolong malam itu. Efek traumatisnya bahkan masih membekas hingga hari ini. Suci mengaku sering kali merasa deg-degan dan disergap ketakutan (panic attack) setiap kali meliput pertandingan yang mulai dipenuhi ketegangan antarsuporter, ia mengharap sebaliknya fans mending hadirkan nyanyian dukungan, yang mwlembuat adem dan terhibur.


*Asa Kebangkitan dan Sinergi Masa Depan*

Meski sempat ragu apakah Arema FC mampu bertahan melewati masa hukuman, terusir dari kandang, dan tekanan sosial yang masif, baik Asad maupun Suci kini sepakat bahwa Singo Edan tengah berada di jalur kebangkitan.

Asad menyoroti tiga aspek krusial yang jauh membaik dari manajemen saat ini. Pertama, Panpel Arema kini melayani akses dan kenyamanan masuk stadion yang dinilainya paling aman di Indonesia. 

Kedua, keseriusan membangun tim yang ditunjukkan dengan mempertahankan pelatih lebih dari satu musim. Ketiga, hadirnya Presidium Aremania yang membuat wadah suporter kini jauh lebih terorganisasi.

Sebagai mitra yang saling membutuhkan, media juga menitipkan kritik membangun. Kebutuhan industri media kini telah bergeser. 

"Ngasih materi ke media itu kan sekarang enggak cukup dengan teks, tapi ada foto dan video," kritik Asad.

Ia juga berharap agar para pemain lebih kooperatif dan mau memberikan senyum kepada media di ruang wawancara (mixed zone), sekalipun tim sedang menderita kekalahan.

Pada akhirnya, podcast ini seolah menjadi rekonsiliasi emosional. Media dan klub sepak bola bukanlah musuh, melainkan ekosistem yang saling menghidupkan. Lewat tulisan dan jepretan lensa, para jurnalis inilah yang akan terus merawat ingatan, menjaga asa, dan menjadi saksi jatuh bangunnya panji Arema FC di kancah sepak bola Indonesia. (**)

Tautan Video YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=07ZFwTVqEsc

Salam Satu Jiwa!

Banner Ads
Banner Ads
NEW NEW NEW NEW

AREMA FC 2025/26 JERSEY