Delapan Edisi Piala Presiden, Panggung Pramusim Konsisten Jaga Transparansi

08 August 2026

Delapan Edisi Piala Presiden, Panggung Pramusim Konsisten Jaga Transparansi

BALI  – Delapan musim bergulir, Piala Presiden tidak hanya mewarnai dinamika lapangan hijau Tanah Air, tetapi juga memberi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas. Komitmen terhadap transparansi dan audit keuangan yang konsisten menjadikan turnamen ini sebagai pilar kepercayaan publik, yang semakin terlihat jelas di helatan Piala Presiden 2026.

Sejak Piala Presiden pertama kali digelar pada 2015, keterbukaan mengenai pengelolaan turnamen menjadi salah satu prinsip yang terus dijaga. Tidak hanya terkait pertandingan di lapangan, tetapi juga menyangkut sumber pendanaan, sponsorship, laporan keuangan hingga proses audit.

Konsistensi tersebut kembali terlihat pada Piala Presiden 2026. Memasuki edisi kedelapan, dukungan sponsor mencapai Rp 100 miliar. Seiring meningkatnya kepercayaan dari pihak swasta, hadiah juara juga mengalami peningkatan hingga mencapai Rp 8 miliar. Selain itu, peringkat 2, 3 dan 4 pun, mengalami peningkatan jumlah hadiah masing-masing menjadi Rp 3,5 miliar, Rp 2,5 miliar dan Rp 1,5 miliar.

Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden, Maruarar Sirait menegaskan, besarnya dukungan tersebut tidak mengubah prinsip dasar yang selama ini dijaga dalam penyelenggaraan Piala Presiden. Turnamen tersebut sama sekali tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun dana dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Piala Presiden dananya tidak ada dari APBN, tidak ada dari BUMN, semuanya dari swasta. Dan diaudit dari auditor yang kelasnya internasional," ungkapnya. 

Menurutnya, audit menjadi salah satu alat ukur penting untuk memastikan transparansi sekaligus membangun reputasi Piala Presiden. Hal tersebut menjadi perhatian yang terus dijaga selama delapan kali penyelenggaraan.

"Delapan kali Piala Presiden, kami berpikir keras bagaimana membangun reputasi dan kepercayaan. Salah satu alat ukur transparansi adalah audit. Karena itu kami bersama PwC sebagai alat ukur berkelas internasional," kata Maruarar.

Keterbukaan tersebut tidak hanya menyangkut persoalan keuangan. Maruarar juga menekankan konsistensi dalam memenuhi berbagai komitmen yang telah dibuat selama penyelenggaraan turnamen.

"Delapan edisi ini juga disiarkan di televisi yang sama. Apa yang dijanjikan selalu tepat waktu," tegas pria yang juga Menteri Perumahan dan Permukiman Republik Indonesia.

Bagi Maruarar, konsistensi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan. Piala Presiden tidak cukup hanya sukses menggelar pertandingan, tetapi juga harus mampu menjaga reputasi di mata sponsor, klub peserta, pemegang hak siar, suporter dan publik.

Pada edisi 2026, peningkatan dukungan sponsor hingga Rp 100 miliar menjadi salah satu indikator kepercayaan tersebut. Hadiah juara yang mencapai Rp 8 miliar juga menunjukkan perkembangan nilai turnamen setelah melewati delapan edisi.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, Maruarar tetap membuka ruang terhadap kritik dan evaluasi. Kritik terhadap penyelenggaraan tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan bagian dari proses untuk memperbaiki Piala Presiden dari satu edisi ke edisi berikutnya.

Klub Dapat Pramusim Berkualitas Jelang Kompetisi

Piala Presiden juga berkembang menjadi turnamen yang memberikan pengalaman kompetitif bagi klub sebelum memasuki kompetisi resmi. Pertandingan dengan intensitas tinggi, termasuk duel Persib-Persija dan Derbi Jatim antara Persebaya dan Arema FC, menjadi gambaran bahwa turnamen pramusim tidak sekadar pertandingan pemanasan.

Bagi klub, turnamen ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan evaluasi sebelum memasuki kompetisi musim 2026/2027. Lima pertandingan yang dijalani Arema FC, misalnya, menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih untuk melihat kebutuhan skuad, kondisi fisik pemain serta sejumlah aspek permainan yang masih harus dibenahi.

"Lima pertandingan di Piala Presiden sangat membantu proses kami. Selama turnamen, tim terus berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya," tegas Marcos Santos, Pelatih Arema FC. 

Berjalan Tepat Sesuai Jadwal

Dari sisi venue, Piala Presiden 2026 juga menggunakan beberapa stadion di Pulau Jawa dan Bali. Stadion Si Jalak Harupat dan Stadion Gelora Bung Tomo menjadi salah satu venue fase grup, sebelum pertandingan semifinal hingga perebutan tempat ketiga dan final bergeser ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Keputusan memindahkan pertandingan fase akhir ke Bali sempat menjadi perhatian karena menyangkut perjalanan tim dan persiapan klub. Namun, seluruh peserta akhirnya mengikuti keputusan penyelenggara dan pertandingan tetap berlangsung sesuai jadwal.

Sportivitas Menang di Balik Rivalitas

Selain persaingan di lapangan, Piala Presiden 2026 juga menghadirkan catatan mengenai sportivitas. Sejumlah pertandingan berlangsung dengan tensi tinggi, tetapi tetap diikuti dengan momen saling menghormati setelah pertandingan. Para pemain dan ofisial dari tim yang menang maupun kalah menunjukkan sikap sportif dengan memberikan apresiasi kepada lawan.

Hal tersebut menjadi bagian penting dari pesan yang ingin dibangun melalui Piala Presiden. Kompetisi boleh berlangsung keras di lapangan, tetapi rivalitas tidak harus berlanjut di luar pertandingan.

Lebih dari Sekadar Panggung Pramusim

Piala Presiden dengan demikian tidak hanya menghasilkan juara dan klasemen akhir. Turnamen tersebut menjadi ruang bagi klub untuk menguji skuad, pemain baru untuk beradaptasi, pelatih untuk mengevaluasi strategi dan sponsor untuk menunjukkan dukungan terhadap sepak bola nasional.

Penutupan Piala Presiden 2026 pun menjadi penanda berakhirnya edisi kedelapan dengan catatan penting mengenai konsistensi tersebut. Selama delapan edisi, Maruarar mengajak panitia menjaga Piala Presiden tetap berjalan dengan dukungan sektor swasta, audit profesional serta komitmen terhadap berbagai janji yang telah disampaikan.

Delapan edisi bukan sekadar catatan perjalanan sebuah turnamen. Delapan edisi menjadi perjalanan membangun reputasi dan kepercayaan melalui transparansi, akuntabilitas serta kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap penyelenggaraan kepada publik.

Delapan edisi Piala Presiden sekaligus menjadi perjalanan membangun reputasi. Dan bagi Maruarar Sirait, reputasi tersebut tidak hanya dibentuk oleh pertandingan dan siapa yang menjadi juara, tetapi juga oleh bagaimana sebuah turnamen dikelola, bagaimana janji dipenuhi, bagaimana kritik diterima dan bagaimana setiap rupiah yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan. (Stenly)

Banner Ads
Banner Ads
NEW

AREMA FC 2025/26 JERSEY