Soal

Soal "Spanduk Psywar" Arema FC Putri Juga Merasa Sebagai Korban


Viralnya foto oknum suporter yang membawa spanduk bernada ‘psywar’ mendapatkan perhatian serius dari tim Arema FC Putri. Menurut  mereka hal tersebut  tidak pantas dilakukan karena lebih mengarah pada pelecehan seksual dibandingkan dengan memberikan dukungan pada tim.
“Saya sudah melihat hal tersebut, tapi tidak secara langsung. Kaget juga saat viral di sosial media. Karena saat pertandingan, hingga selesai dan pulang kita tidak melihat hal tersebut. Melihat kontennya,  tim kita juga menjadi korban karena berisi hal yang sebenarnya tidak pantas untuk diungkapkan apalagi dituliskan” ungkap pelatih Arema FC Putri, Syahrial Alief.
Spanduk tersebut diduga dibentangkan setelah pertandingan Liga 1 Putri antara Arema FC Putri melawan Persebaya Surabaya Putri. Pertandingan sendiri berjalan dengan menarik dan syarat dengan nuansa persahabatan, kendati diantara kedua tim tersebut selama ini dikenal  memiliki rivalitas dan saling menjaga gengsi.
“Ini mungkin masih diawal, tapi saya melihat sepak bola putri memiliki prospek cerah kedepannya. Mereka adalah pemain yang serius di sepak bola, permainannya pun enak untuk ditonton” papar Syahrial Alief.
Lepas dari tensi tinggi pertandingan, suasana  hangat penuh dengan samangat persahabatan terjadi begitu pertandingan berakhir. Pemain kedua tim ternyata saling mengenal satu sama lain. Bahkan mereka terlihat meluangkan waktu yang cukup singkat seusai pertandingan tersebut untuk berbincang-bincang dan saling bersalaman. Tim Persebaya Putri kendati  mengalami kekalahan dari Arema FC Putri namun seusai pertandingan mereka juga menyempatkan diri untuk menyanyikan yel-yel berisi motivasi dan semangat agar di pertandingan berikutnya bisa bangkit untuk meraih hasil maksimal.
Sementara itu tokoh suporter Arema FC, Aremania, Amin, meminta  pelaku pembentangan spanduk untuk  bertanggung jawab. Dia curiga bahwa hal itu dilakukan oleh oknum yang hanya ingin mencari sensasi  untuk viral di sosial media. “Tentu saya sangat menyayangkan hal tersebut. Memang Persebaya dan Arema ada sejarah rivalitas, tapi tentu tidak begitu dalam melakukan psywar. Jangan-jangan mereka adalah provokator, karena pertandingan dilakukan di area militer untuk meminimalisir penonton yang datang” seru Amin